30 April 2012

Mungkin Nanti

Senja mengatap di Jakarta. Macet, sepertinya sudah menjadi hal biasa bagi Ibukota Negara kita ini. Puluhan bahkan ratusan kendaraan nampak berjejalan memenuhi jalanan. Salah satunya, mobil Honda Stream hitam metalik dengan pengendara seorang wanita, Nani namanya.
"Huh, gak kelar-kelar sih macetnya! Udah seharian dikantor dah capek." gerutu Nani dengan sebalnya. Memang, amat tersiksa rasanya menjadi korban kemacetan. Terlebih, di kantornya Nani sudah kelelahan bekerja. Rencanya ingin segera pulang dan langsung banting badan di kamar, eh... lha kok malah terjebak macet.

Tiba-tiba handpone Nani berdering. Dad is calling...
   "Yea, ada apa Pa ?" suara Nani terdengar sangat dingin, sedingin es. 
   "Kok ketus gitu sih sama Papa? Gimana kabar kamu di Jakarta?"
   "Baik Pa !"
   "Hmm, Papa harap kamu gak lupa hari ini hari apa ?"
   "Yeaa, Nani inget. Hari ini Papa ultah kan..."
   "Syukurlah kalo kamu masih inget. Terus, kamu gak pulang ?"
   "Duhh Pa, Nani sibuk banget. Kerjaan di kantor numpuk. Mana bisa semuanya Nani tinggalin
   dengan alasan ultahnya Papa !"
   "Iya, Papa ngerti. Tapi kamu udah hampir dua tahun lho gak ngunjungin rumah. Apa kamu
   gak kangen sama Papa, juga Mama ?"
   "Please deh Pa, jangan mulai! Masih banyak yang lebih penting dari sekedar rasa kangen.
   Emang Papa minta kado apa sih? Ntar biar Nani paketin."
   "Kado paling istimewa bagi Papa saat ini hanyalah kepulangan kamu dengan memakai

   jilbab yang Papa berikan dulu."
   "Huuh, maaf Pa, Kayaknya untuk saat ini masih belum bisa. Mungkin nanti !"
   "Nanti? Sampai kapan?"
   "Ehh, udah dulu ya Pa, Nani masih sibuk nih! Bye."  Tanpa mendengar lagi jawaban dari Papanya, Nani memutuskan telepon dan mengakhiri percakapannya. Nani mulai malas, bila Papanya membahas soal jilbab. Yah, dua tahun yang lalu, sebelum Nani memutuskan untuk bekerja di Jakarta, Papanya sempat memberinya sebuah jilbab sambil berkata, Papa pengen sekali lihat kamu pakai jilbab. Namun entah mengapa, sepertinya sampai sekarang Nani belum dapat memenuhi keinginan Papanya itu.

Langit mulai gelap, kemacetan masih belum jua usai. Dengan cemas Nani memperhatikan sekelilingnya. Masih sesak terpenuhi berbagai macam kendaraan. Lalu perhatian Nani tertuju pada spion tengah mobilnya. Ia arahkan spion itu tepat ke wajahnya. Ia tatap sosok dirinya yang memantul dalam spion itu. Paras yang cantik, dengan rambut hitam tergerai lurus nan indah. "Ahh, sepertinya belum waktunya aku mengenakan jilbab. Mungkin nanti..." katanya kemudian.

Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Bulu roma Nani serasa meremang mendengarnya. Namun sekejap lenyap terabaikan ketika ia dapati jalanan mulai longgar. Nanipun segera membawa mobilnya pergi menuju rumah kontrakan tempat ia tinggal di Jakarta.
*****



BEBERAPA HARI SETELAHNYA

Mungkin Nanti-nya Peterpan mengalun dalam stereo Honda Stream hitam metalik yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Deru mesinnya mulus membelah jalan lengang di zona waktu subuh. Waktunya cari duit! Kata si pengemudi, siapa lagi kalau bukan Nani. Yah, obsesi besar Nani ingin menjadi seorang wanita karir mengharuskan ia berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.

Mobil itu melaju cepat dalam jarak ratusan meter. Namun tiba-tiba berhenti mendadak. Berdecit suara ban yang tak berputar. Keluar asap tipis mengepul. Bekas ban menghitam di aspal. Didalamnya, seorang Nani dengan mulut ternganga, tercekat tanpa suara. Baru saja ia menerima telepon dari Mamanya, mengabarkan bahwa Sang Papa baru saja telah meninggal dunia.





Jalanan pagi masih begitu sepi.
Sementara Ariel Peterpan masih bernyanyi dalam stereo mobil Nani.

           Dan mungkin bila nanti
           Kita kan bertemu lagi
           Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali
           Rasa yang ku tinggal mati
           Seperti hari kemarin saat semua disini

Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti,...
Haruskah menunggu nanti, apalagi mungkin nanti untuk suatu kebaikan ?

15 Comment:

  1. Apa yang bisa kita kerjakan saat ini, maka kerjakanlah, jangan sampai menunda karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi esok..

    Nice post :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. seep dahh...
      makasih sob :)

      Hapus
  2. Duh Nani, pasti yang tertinggal hanyalah penyesalan bagimu, pasti semua keketusanmu kepada papa sekelebatan muncul kembali.. tapi itu sudah terlambat :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah begitulah,...
      penyesalan memang datengnya slalu di akhir ya [-(

      Hapus
  3. 'nanti' yang dinantikan bisa menjadi bumerang juga dalam hidup ini kalo terus menerus dipelihara, yang ujung-ujungnya bisa menjadi sebuah penyesalan untuk selamanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget !
      terkadang, pertimbangan yg terlalu berlebihan juga tidak baik memang

      Hapus
  4. Wew. Terakhirnya lagu kesukaan nih. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. soal selera musik, sepertinya kita berdua memang gak jauh beda ya Yu :)

      Hapus
  5. Balasan
    1. bukan mas. peterpunk ...gkgkgk

      Hapus
  6. sekarang postingannya model cerpen gitu yah, san. ;)
    nilai moralnya dapat bener.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ga' juga si Cci, hanya saja imajinasi gue saat ini sedang menggebu-gebu ...hehehe #lebay :D

      Hapus
  7. jangan menunggu datangnya hidayah untuk mengenakan jilbab, hidah itu dicari, bukan ditunggu :D

    BalasHapus
  8. hadir untuk silaturrahmi, krna udh lm g BW, bagus postingan nya sobat....

    BalasHapus
  9. izin nyimak aja gan..

    BalasHapus

Please comment, kritik, or sarannya! Trims ^_@