12 Maret 2012

A Lesson of The Butterfly


Kupu-kupu bagi saya adalah jenis serangga yang menawan. Bentuknya yang mungil, tingkahnya yang centil, disertai keindahan sayap yang membuatnya semakin nampak cantik. Namun saat ini saya tidak sedang membahas tentang kepribadian kupu-kupu. Saya hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang pengalaman unik semasa kecil saya dulu. Let's go....


Kalo gak salah waktu itu saya masih berumur sembilan tahun. #Kebayang kan masih imut-imutnya bego'-bego'nya Saya menemukan kepompong di sebuah pohon deket rumah saya. Kepompong itu lalu saya ambil dan saya bawa pulang, karena saya ingin mengikuti metamorfosa kepompong menjadi kupu-kupu.

Alhasil, tiga hari setelahnya kepompong mulai terbuka sedikit. Dari dalam kepompong nampak seekor kupu-kupu tengah berusaha ingin segera keluar menikmati alam bebas melalui lubang kecil itu.

Saya merasa usaha kupu-kupu tak akan berhasil, maka  sayapun memutuskan untuk membantunya. Dengan segera saya menggunting kulit kepompong dan memperbesar lubang yang ada. Kupu-kupu pun berhasil keluar, tapi badannya bengkak dan sayapnya bengkok. #Nah loe

Selama berjam-jam saya menatap dan menunggu penuh harap, barangkali badan kupu-kupu mengempis dan sayapnya mengembang sehingga dapat menopang badannya. Namun harapan itu tak pernah terjadi. Kupu-kupu itu hanya bisa berputar-putar dengan badannya yang bengkak dan sayapnya yang bengkok, namun tak pernah bisa terbang.  


Ternyata rasa belas kasihan dan pertolongan saya telah berakibat fatal bagi kehidupan si kupu-kupu. Perjuanfan kupu-kupu keluar dari lubang yang sempit di kepompongnya adalah suatu proses alam, untuk memaksa cairan di tubuh kupu-kupu mengalir ke sayap, untuk dapatnya badan kupu-kupu menjadi langsing dan sayap menjadi kuat, sehingga begitu kupu-kupu keluar dari kepompong langsung bisa terbang. Namun karena ulah saya, kupu-kupu itu tidak pernah bisa terbang dan menjadi kupu-kupu yang manja.   

Lalu terlahir sebuah quote :


...Terkadang perjuangan adalah satu-satunya yang kita butuhkan dalam hidup ini. Bila alam selalu memberikan kesempatan hidup tanpa adanya rintangan, kita akan menjadi lemah. Kita tidak akan pernah sekuat seperti sekarang, dan tidak akan pernah bisa terbang...

4 Comment:

  1. Ya begitulah. Hidup di jalan itu memang keras, tapi itu adalah tempaan untuk kita agar menjadi orang yang lebih keras namun berhati lunak.

    BalasHapus
  2. hoooiii, kek. ganti kulit lagiii?? ckckkckk..

    ah, sya suka quote terakhirnya. mantaf gan. :)

    BalasHapus
  3. aku jadi menangkap satu pelajaran dari kisah di atas, ga semua uluran tangan itu bisa membuat kita menjadi lebih baik. Dan selama kita masih mampu, uluran tangan itu rasanya tak pantas untuk kita terima... :)

    BalasHapus
  4. intinya seleksi alam akan menyeleksi siapa kita...
    :P

    BalasHapus

Please comment, kritik, or sarannya! Trims ^_@