13 Agustus 2011

Ratapan Pak Ustadz

Suatu sore, Pak Ustadz bersama orang muslim lainnya sedang ngabuburit dalam sebuah masjid. Ada yang menyibukkan diri membaca ayat-ayat Al-Qur'an, ada pula yang sekedar berdzikir. Waktu menunjukkan pukul 04.00. Kurang lebih dua jam lagi saatnya berbuka.

Tiba-tiba masuk seorang pemuda dengan membawa sebekal makanan. Tanpa segan ia duduk di antara orang-orang yang sedang ngabuburit, dan memakan makanan bawaannya dengan lahap. Pak Ustadz merasa risih dengan pemandangan itu, hingga iapun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri pemuda itu.



"Hai orang kafir! Apa yang sedang kau lakukan di rumah Allah ini?" tegur Pak Ustadz dengan nada agak keras. "Tentunya anda sudah tahu, saya sedang makan." jawab pemuda itu seakan tak punya salah.
"Aku tahu kau sedang makan. Dan kamupun juga harus tahu bahwa ini bulan puasa! Semua orang disini sedang puasa. Kalau kamu mau makan, makan saja di rumahmu! Jangan kau makan di hadapan orang-orang yang sedang puasa!" nada Pak Ustadz semakin tinggi. Tak ayal semua tatapan orang di dalam masjidpun tertuju pada Pak Ustadz dan pemuda itu.
"Apa saat ini anda sedang puasa?" tanya pemuda itu santai. "Tentu saja aku sedang puasa. Aku ini orang muslim. Bukan orang kafir sepertimu!" Pak Ustadz makin jengkel agaknya.
"Jika benar anda saat ini sedang puasa, mengapa anda marah-marah pada saya? Bukankah selain kita harus menahan lapar dan dahaga, kita juga harus menahan hawa nafsu dan amarah? Sudahlah, lebih baik sekarang anda ikut makan saja bersama saya! Karna jelas puasa anda sudah batal sekarang." sambil meneruskan makannya.

Seketika Pak Ustadz tersentak mendapati jawaban pemuda itu. Iapun duduk terkulai di hadapan pemuda itu dengan lemasnya. Tatapannya kosong memandang jauh ke depan. Ia berkata-kata sendiri dalam hati kecilnya ...

"Astaughfirullah ... Benar juga kata pemuda ini. Bukankah dalam menjalankan puasa, selain aku harus menahan lapar dan dahaga aku juga harus menahan hawa nafsu dan amarah. Sesuatu yang luput dari kesadaranku. Dan seseorang yang nampak begitu hina dalam penglihatanku telah menyadarkanku. Masih pantaskah aku menyandang gelar sebagai seorang Ustadz? Sementara saat ini aku telah merasa teramat malu. Bukan hanya di hadapan para umat muslim dalam masjid ini, namun juga di hadapan Allah. Sungguh, aku malu."




Waktu berbuka masih kurang satu jam lagi. Apakah puasa Pak Ustadz telah batal saat itu juga? Wallahu'alam ...

9 Comment:

  1. yah mungkin lebih bijak lagi kalau pak ustadz berbicara dengan lemah lembut kepada pemuda itu dan menasehatinya daripada termakan oleh amarahnya sendiri....

    tapi kalau saya ada disituasi seperti itu,sy juga tidak tahu harus melakukan apa.
    apakah akan menegur pemuda itu atau mendiamkannya saja.

    Keep share :D

    BalasHapus
  2. pemuda itu mesti tetap ditegur...mungkin caranya yg berbeda....

    BalasHapus
  3. ya terkadang apa yang kita anggap tidak baik malah menjadi suatu petunjuk bagi kita semua!

    Oh iya,mw tanya!caranya biar blog bisa tampil lebih simple di hp kaya punya sandy gimana ya?thanxya terkadang apa yang kita anggap tidak baik malah menjadi suatu petunjuk bagi kita semua!

    Oh iya,mw tanya!caranya biar blog bisa tampil lebih simple di hp kaya punya sandy gimana ya?thanx

    BalasHapus
  4. Jika itu memang terjadi cerita yang sebenarnya bgtu,, saya hanya punya pendapat bahwa itu adalah teguran, pembelajaran dan ujian bagi si ustad itu. termasuk juga orang'' yang berkumpul disitu. Allah mengirimkan orang yang makan di t4 itu untuk memberikan pelajaran dan ujian bagi semua yang ada disitu. Alangkah bijaknya jika dia di tegur dengan tutur kata yang santun. tentang batalnya puasa si ustad tak ada satupun orang kan tau. Hanya Allah dan ustad sendiri yang tau,..

    BalasHapus
  5. memaknai puasa yaitu tetap harus menahan semua hawa nafsu mas...

    BalasHapus
  6. keren sekali sentilannya..!

    tamparan lebih tepatnya buat yang sedang berpuasa.

    saya yakin cerita ini cuma rekaan, tapi setidaknya kita bisa ambil hikmahnya.!

    salam.. kunjungan perdana. :)

    BalasHapus
  7. Di tunggu yang baru ya,.

    BalasHapus
  8. Sya kira bakalan ga' ada yg mbaca, trnyata ada jg ...hehehe

    Terimakasih pd smua yg telah brkenan hdir mmbca & mnyimak ctatan diatas !
    Kita smua mmglah brhak mndefinisikan & mmbri versi yg brbeda-beda. Namun stu ksimpulan yg psti, bhwa tdk shrusny kita mnilai org lain dg sbatas pnca indera yg kita puny. Krn ssungguhny Tuhan tlah mnempatkn pribadi mnusia lbih dlm drpd smudra. Dan ktahuilah, di dunia ini bnyk mnusia kafir di hdapan mnusia lainny, nmun blm tntu kafir di hdapan Allah.

    BalasHapus
  9. tapi cara seseorang di tiap permasalahan emang beda beda cara nyampeinnya :(

    BalasHapus

Please comment, kritik, or sarannya! Trims ^_@