22 Agustus 2011

Negeri Ribut

Di bulan puasa ini selain saya puasa menahan lapar dan dahaga, sayapun puasa melihat berita-berita di televisi maupun media massa. Bukan karena apa, namun isi dalam berita-berita tersebut sungguh menyiksa batin saya,` sebagai salah seorang penghuni tanah air ini. Kini era reformasi berjalan sepuluh tahun lebih, televisi dan media massa ikut berubah, menjadi lebih beragam, terbuka, dan kritis.

Dari hari ke hari negeri ini seperti negeri ribut, ricuh oleh apa saja. Seperti sangat sangat gampang memunculkan 'aksi' yang memicu kericuhan dan keributan. Ironisnya, pengelola negeri ini, orang-orang yang dipercaya memegang amanah rakyat, turut andil besar membuat kericuhan. Menikmatinya, sehingga mungkin beralasan mempertahankan suasana ribut.



Coba cermati Marzuki Alie, betapa sering ia mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan keributan. Yang terkini adalah permintaannya agar KPK dibubarkan, menyusul dua pimpinannya tersangkut 'nyanyian' M. Nazaruddin. Lebih menghebohkan lagi ia minta koruptor yang bejibun jumlahnya itu dimaafkan saja oleh negara.

Kalian tahu, dengan ungkapannya itu Marzuki seperti berbicara di warung kopi saja. Ucapan omong kosong dan sama sekali tak menanggung beban moral di dalamnya. Orang satu ini seperti tidak pernah sadar bahwa dia adalah 'bos' nya para wakil rakyat, yang tiap ada acara-acara kenegaraan maupun acara penting kursinya satu deret dengan kepala negara. Dan sudah tentu segala cerocosannya berimplikasi sangat luas dan besar.

Kita tentu bisa saja tidak mempedulikan sama sekali segala yang dikatakan Marzuki Alie. Toh sejauh ini sudah banyak protes dan kritikan rakyat, baik untuknya pribadi maupun pada instistusinya (DPR) tak pernah didengarkan. Saya hanya lebih pada risih saja dengan ucapan-ucapannya yang serasa asbun itu. Saya bahkan jengkel, karena bagaimanapun dia membawa amanah rakyat. Suatu pekerjaan yang sebenarnya tak main-main, lantaran sangat berat bagi yang benar-benar memahaminya.

Tak kelirulah kalau kemudian ada yang mempersepsikan berbeda-beda isi benak Marzuki atas statemen-statemen anehnya itu. Kalian misalnya, boleh saja menduga Marzuki ingin kolega-koleganya di Demokrat yang dituduh korupsi itu, kelak kalau terbukti secara hukum cuma diampuni negara seperti usulannya. Atau sah-sah saja kalau saya menuduh Marzuki adalah salah satu manusia Indonesia  yang senang negerinya diacak-acak  koruptor, bahkan jangan-jangan berkawan dengan banyak koruptor. Sampai-sampai ia tak yakin bahwa sebenarnya masih ada orang baik dan amanah yang bisa melibas koruptor, sehingga enteng saja bicara membubarkan KPK. Namanya saja sedang meramal isi kepalanya. Toh, ia sudah membuat ribut dan bingung kita dengan asbunnya itu. Koruptor yang sudah jelas-jelas menjarah kekayaan negeri sendiri, memperpuruk kondisi perekonomian kita, memelaratkan rakyat, sudah sepantasnya dihukum mati.

Bukankah desakan yang sama juga mestinya bisa kita lakukan; Bubarkan saja dewan! Ketika mayoritas wakil rakyat terlilit kasus hukum, bahkan ada yang mendekam di bui. Pendeknya, kita kini hidup di negeri yang kisruh dan ricuh.

Tempo hari, pelengseran Alfre Riedl juga memercikkan ribut. Cara pengurus baru PSSI mengganti mantan pelatih timnas tersebut menyorotkan arogansi kekuasaan. Banyak yang mendukung PSSI tak keliru, tapi tak sedikit yang meributkan model Riedl bak 'tak tahu terimakasih'. Sudahlah, bagian mana yang tak ribut di negeri ini? Mau menjadi tuan rumah SEA Games harusnya mempersiapkan diri dengan baik, malah dicemari kasus suap proyek wisma atlit.

Gayus Tambunan yang mulai kita lupakan akibat ribut-ribut korupsinya dulu, belum lama juga membuat ribut lagi. Kata Gayus, ia kabur ke Singapura dulu karena disuruh anggota tim Satgas Anti mafia Hukum.

Bahkan orang sekelas Presiden SBY saja juga membuat ribut rakyat. Berbicara di konferensi ILO di Jenewa sekitar sebulan lalu. Presiden membanggakan TKI sebagai pahlawan devisa. Pemerintahannya tengah menjalin kerjasama intensif untuk keselamatan TKI. Kita lantas tahu, empat hari setelah pidato itu, Ruyati dipancung oleh Kerajaan Arab Saudi. Keributanpun meruak di mana-mana.

Maka patutlah kita menyanjung tinggi-tinggi mereka yang tiada lelah meributkan sang pembuat ribut. Tak soal didengar atau tidak, diperhatikan atau diabaikan, menguliti keributan dan pelakunya adalah kewajiban. Barangkali sama seperti biang ribut itu, membuat negeri ini ribut adalah kewajiban. Ada sensasi nikmat di sana. Mungkin begitu.


11 Comment:

  1. beginilah negeri kita gan!ane bingung,orang kaya si zuki ali kok bisa jadi ketua??wakil rakyat udah pada butabeginilah negeri kita gan!ane bingung,orang kaya si zuki ali kok bisa jadi ketua??wakil rakyat udah pada buta

    BalasHapus
  2. hehehe...kasihan para pejuang bangasa ini yang telah memberikan darahnya untuk kemakmuran bangsa ini, tapi generasi penrusnya gak pernah berterima kasih atas usaha para pejuang,,,semoga negeri ini diselamatkan dari orang² kotor AMIN

    BalasHapus
  3. opini dan kritik yang sip..!

    lanjutkan kawan mencermati dinamika perpolitikan negeri ini.
    lihat saja apa yang terjadi nanti.!!

    BalasHapus
  4. Arev Tyan: disini gunung, disana gunung,,
    di tengah-tengah bunga melati,..

    anda bingung, syapun bingung,,,
    koq bs ya ada ketua kyak Marzuki ??
    hehehe... mkasih gan khdiranny !

    Kang Sofyan : bner skali kang,,
    usha pra pjuang kini terasa sia-sia,..
    trimakasih u/ prtisipasiny !

    Mas Roe : trimakasih mas !
    dkunganny bkin sya smgt 45 ...hehehe

    BalasHapus
  5. mana followers nya..? taro dong widget followersnya di sidebar :)

    BalasHapus
  6. inilah negeri tanah lahir kita.. sebuah panggung sandiwara nan pelik yang lucu.. sudah difollow balik bung.. semangatttt...

    BalasHapus
  7. saya menyukai tulisan anda, tapi saya tak menyukai peristiwa yang melanda negeri ini.
    dari pada pusing melihat mereka yang tak malu untuk berkata tentang benar, lebih baik kita ngopi, sob. hehehehe

    BalasHapus
  8. kalo menurut saya kayak sinetron. masalah datang dan pergi silih berganti.

    BalasHapus
  9. Mas Andy : kotak followersny kan dah sya psang di sidebar,..
    tuh yg pke' jdul shbt pmbca ...

    Mba' Edelweiss : welcome... trimakasih telah brkenan mngikuti blog acak-acakan ini !

    Mas Dede : hehehe... sip mas !
    dngin-dngin gni pling enk emg mnum kopi,..
    mkasih knjunganny !

    Mas Yus : bner mas, negara ini kya akn sinetron, tak ayal bila alur cerita negara inipun mirip sinetron,..
    alias mbulet ...hehehe
    mkasih knjunganny !

    BalasHapus
  10. saya malah mempercayai teori konspirasi mas. Saya meyakini hal-hala yang diblow up ditelevisi adalah sesuatu yang mungkin malah untuk menutupi kebusukan yang lebih besar. entahlah. seperti terasa nyesek aja kalo nonton.. betapa lucunya negeri ini :(

    BalasHapus
  11. mba Euis : trimakasih bwt prtisipasiny !
    yah, inilah negeri kita,...
    suatu negeri yg lyak diprihatinkan ...

    BalasHapus

Please comment, kritik, or sarannya! Trims ^_@