06 Agustus 2011

Menolak Kelaziman



Belakangan ini kita semua dijejali dengan perayaan peristiwa yang mendebarkan. Mesir bergejolak, kasus mutilasi kian marak, jamaah Ahmadiyyah diserang massa, banyak orang tua tega membuang bahkan membunuh anak kandungnya sendiri, dan beragam peristiwa yang tak biasa lainnya. Namun karena terlalu banyak peristiwa yang terus berdatangan ke ruang kita, tentu kitapun akan menjadi biasa dengan peristiwa-peristiwa tersebut. Dan inilah yang berbahaya.



Dengan maraknya berbagai peristiwa yang meloncat ke keseharian kita, bukan tidak mungkin pandangan kita akan berubah. Kita yang awalnya melihat kekerasan sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan, menjadi biasa. Kita yang awalnya melihat jijik pada darah, menjadi biasa. Kita yang awalnya merasa nelangsa melihat penganiayaan dan pendholiman akan menjadi biasa. Seyogyanya kita memiliki pemertahanan diri agar kita bisa tetap bersikukuh, dan bisa membedakan apa yang seharusnya biasa dan tak biasa.

Saya teringat pada ucapan legendaris dari seorang pemimpin fasis dari Nazi Jerman, Hitler, bahwa 'kebohongan yang terus diulang-ulang akan menjadi kebenaran.' Hal inilah yang menjadi propaganda dari Nazi untuk melakukan kejahatan kemanusiaan dan menganggap bahwa pembantaian manusia di kamar gas adalah sebuah tindakan penyelamatan umat manusia. Sebuah kebohongan yang sudah berubah menjadi kebenaran, dan akhirnya menyisakan sejarah nista bagi kemanusiaan Eropa.

Selain dia tentu masih banyak lagi contoh yang menghiasi lembaran-lembaran kelam sejarah umat manusia. Belajar dari sejarah, kita sebagai generasi abad ke-21 yang menghirup udara teknologi super canggih, baik dalam transportasi, telekomunikasi, dan lain-lainnya, selayaknya juga mawas diri dengan adanya berbagai peristiwa 'berdarah' yang terus berulang-ulang datang. Peristiwa yang kerap kita baca, kita dengar, kita saksikan, dan kita rasakan, dari media-media, baik itu cetak, televisi, internet, dan lain sebagainya. Kita harus pintar memilah dan membentengi diri kita dengan pandangan-pandangan yang tetap jernih dan berkumpar pada suara hati. Kita harus kukuh menolak kelaziman-kelaziman yang didesakkan oleh peristiwa dan berita sehari-hari. Kita harus tetap punya pandangan bahwa kekerasan itu tak boleh terus berbiak.

Semoga postingan kali ini tidaklah basi sebagai pengingat agar kita tetap menjadi pribadi yang kukuh dan tetap waras menghadapi kenyataan. Dan mungkin bulan Ramadhan ini adalah sarana yang tepat untuk kita lebih mensucikan nurani dan membentengi diri dari perbuatan-perbuatan keji. Semoga bermanfaat.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menunaikan.

11 Comment:

  1. sip...menjadi bacaan sebelum saya tidur di malam ini....

    BalasHapus
  2. hehehe... asal jgn dongeng sblum tdur aj,,
    mkasih mas knjungan plus followny !

    BalasHapus
  3. Wah, ok2
    ya sbagai tmbahn info bgi sya jga..
    slm knal, knjungn prdana sya.
    trmksih ya kawan..
    sya follow ya, tnks

    BalasHapus
  4. @K3 : trimakasih ya khdiranny !
    ini blog "Menulis The Suka Hati"
    hny sja jdulny sya gnti,..

    BalasHapus
  5. saya suka bagian "kebohongan yang terus diulang-ulang akan menjadi kebenaran".

    ngeri jg yah mas =="
    btw keep posting :)

    Already follow :D
    dibales gpp kok mas hha

    BalasHapus
  6. teori hegemoni: seuah kesalahan jika terus menerus dianggap sebagai kebenaran akan berubah menjadi kebenaran.

    qt benar2 harus selektif pada dunia. gunakan pengetahuan dan nurani sesuai porsi dan tempatnya.
    hm.., lama dak BW sya. :D

    BalasHapus
  7. Sekedar Opini kawan,

    Aku jadi teringat akan sebuah teori konspirasi yang menyatakan bahwa semua pembantaian manusia yang dilakukan Hitler adalah hoax, karena tak ada bukti yang bisa mengantarkan kita ke sana.. Hal ini katanya dilakukan agar hegemoni Amerika dengan kapitalisme-nya bisa dengan langgeng tetap menjadi yang terdepan dalam percaturan dunia.. Hal ini justru bisa masuk dalam koridor perkataan Hitler "kebohongan yang terus diulang-ulang akan menjadi kebenaran" Tetapi bukan berarti saya ini adalah penggemar berat Hitler yaaaa....hahahahha

    Terlepas dari semua itu, di zaman sekarang ini kita dengan mudahnya disuguhi berbagai informasi-informasi yang baru, yang kebenarannya sebenarnya masih patut dipertanyakan.. Jadi, kita sendiri harus pandai-pandai memilah-milah dalam menerima ataupun membenarkan informasi informasi itu.. agar semua yang masuk itu, tak menjadi suatu kelaziman tersendiri dalam benak kita, dalam pikiran kita...

    BalasHapus
  8. @Uchank : trimakasih bnyk mas !
    knjungan blik akn sgr dilaksanakan,..

    @Acci : allow sist... lama kali dikau tak bersua ...hehehe
    siip! thanks ya

    @Sam : mgkn sprti teori dri Einstein, "di dunia ini tidak ada yg pasti, yg pasti hnyalah ktidakpastian."
    mulut & pkiran stiap mnusia tntu brbeda-beda, mka wjar jk bnyk versi yg mncul ttg Hitler.
    mka itu kita hrus bnar-bnar pndai memilah-milah stiap informasi yg hdir, sprti yg anda opinikan.
    trimakasih bnyk mas !

    BalasHapus
  9. Postingan yg bagus sob,,tp aku harus komentar apa ya?..menurut aku ya..seringnya terjadi kekisruhan/kekacauan di negeri ini, tak lain tak bukan adalah karena adanya unsur kepentingan pribadi/golongan..obsesi dan ambisi yg telah dominan menjajah pribadi, makanya mana yg hak dan yg bathil tak bisa lg mereka bedakan..apa yg kita lihat dan saksikan di setiap sudut negeri itulah hasilnya..semua terpulang kembali pd pribadi kt masing2 utk menyikapinya..

    BalasHapus
  10. Tidak sedikit pelajaran dari agama yg kita anut dan pelajaran PPKn yg ada dibangku sokolah tetapi itu hanya pelajaran, nihil pengamalan.

    Semoga kita bisa mengahalahkan musuh terberat kita yaitu diri kita sendiri.

    BalasHapus
  11. @Putri Omsima : comentny mantab !
    terimakasih ya, telah brsedia mmbca, mnyimak, & ngasih coment ...

    @Baha Andes : bner bgt sob !
    msuh trbesar diri kita mmg hnylah diri kita sndiri,..
    mkasih sob udh hdir !

    BalasHapus

Please comment, kritik, or sarannya! Trims ^_@