24 Juli 2011

Sang Jawara Suatu Tantangan



Hidup ini terlalu rumit untuk di fikirkan, namun juga terlalu sulit untuk di abaikan. Mungkin yang perlu manusia lakukan hanyalah mencoba untuk menikmatinya.

Menjalani hidup ini bagai berada dalam perbatasan Surga dan Neraka. Karna hidup ini tak ada habis-habisnya dengan pesta pora kesenangan, dan tak ada habis-habisnya oleh tangis penderitaan. Di saat kesenangan di hadirkan pada manusia, dengan mudahnya manusia menyimpulkan bahwa hidup ini indah. Bila tiba giliran penderitaan yang di hadirkan, begitu merdunya keluhan manusia bersenandung.

Namun betapapun hebat penderitaan yang telah terjadi, hanya manusia sendirilah yang berkewajiban untuk mengalahkannya. Mungkin itulah sebabnya manusia menangis saat pertama kali di lahirkan dalam kehidupan ini.

Karna hidup penuh dengan tantangan. Dan tantangan bagi manusia itu adalah dirinya sendiri. Itulah kemanusiaan itu. Jika hati nuraninya berontak melawan yang tidak benar menurut kodrat yang Ilahi berikan kepadanya. Jika ia menang, ia menjadi subyek dari setiap situasi. Ia akan memenangkan kemanusiaan itu. Iapun menjadi pembela kemanusiaan itu, tanpa kecengengan dan kesilauan yang berlebih-lebihan. Tetapi jika manusia kalah dalam tantangan itu, ia akan menjadi obyek dari situasi. Ia lebur dalam kawah situasi. Iapun menjadi perusak dirinya sendiri, perusak kemanusiaan, perusak peradaban ini.

Jika di fikirkan, benar-benar betapa jahatnya situasi akan mengancam dan menantang manusia. Manusiapun tidak memikirkan lagi, bahwa situasi yang baikpun pada permulaannya akan membikin otak manusia menjadi sinting karna peristiwa-peristiwa yang tidak disangka-sangka.



"Gimana Gus?" tanya Vina yang masih terisak kebingungan. Bagus diam. Bagus sendiri bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba saja orang tua Vina memaksa untuk mengakhiri hubungan mereka. Sungguh posisi yang sangat sulit buat Bagus.
"Sudahlah Vin, kamu turuti aja kemauan ortu kamu! Karna sepertinya memang itulah yang terbaik buat kamu." kata Bagus kemudian. "Tapi Gus..." protes Vina. "Kita gak punya pilihan lain Vin. Apa aku harus membawamu lari dari ortu kamu? Sepertinya gak mungkin. Karna itu bukanlah jalan menuju kebahagiaan. Melainkan hanya akan membawamu pada kesengsaraan. Dan aku gak pengen kamu sengsara." jawab Bagus getir. Keduanyapun terdiam cukup lama. "Yakinlah Vin! Kelak kan ada jalan untuk kita bersatu. Dan percayalah! Aku akan berusaha mencari jalan itu."Bagus mengusap air mata di pipi Vina.


Sebenarnya Bagus sudah tahu, bahwa sejak awal orang tua Vina kurang begitu suka kepadanya. Mungkin karna perbedaan latar belakang keluarga mereka yang cukup jauh. Bagus berasal dari keluarga menengah ke bawah, atau lebih tepatnya miskin. Sementara Vina adalah salah satu anggota keluarga bangsawan yang cukup terpandang.





SETELAH 1 MINGGU

Bagus termenung seorang diri dalam kamarnya yang kecil. Nampak jelas rona kesedihan di wajahnya. Yah, sudah seminggu ini Bagus larut dalam kesedihan. Sangat berat untuk Bagus kehilangan Vina. Karna di relung hatinya yang terdalam, telah tersimpan cinta yang kuat untuk Vina. Namun iapun tak dapat mengubah apa yang telah menjadi keputusan orang tua Vina.  


Masih terekam dalam memori ingatan Bagus, saat pertama kali ia nyatakan cintanya pada Vina. Dan disaat Vina mengakui juga mempunyai perasaan yang sama dengannya, dan bersedia menjadi kekasihnya. Betapa bahagianya kehidupan Bagus saat itu. Namun kini semua itu tinggal kenangan. Karna Vina telah pergi jauh dari kehidupannya. Orang tua Vina tak ingin lagi melihat anaknya berhubungan dengan Bagus. Hingga merekapun rela membawa anak mereka ke luar negeri. Membawa Vina pergi jauh dari kehidupan Bagus.


Tiba-tiba handpone Bagus berbunyi. Dengan agak malas ia mengambil handpone dalam saku celananya. Deni, salah seorang rekan kerja Bagus menelpon. "Heh Gus, kemana aja lu seminggu gak masuk kerja? Mana gak ijin lagi." celetuk Deni tiba-tiba. "Gue lagi gak mood Den." jawab Bagus singkat. "Begok lu! mestinya lu ijin dulu donk! Si Bos marah-marah tuh. Katanya hari ini juga lu dipecat." Deg! Jantung Bagus serasa mau copot mendengar penjelasan Deni.
Seminggu yang lalu cintanya kandas, sekarang diberhentikan dari pekerjaan. Ia tak habis fikir, kenapa masalah datang bertubi-tubi menimpa kehidupannya. Semuanya membuat pikiran Bagus makin kacau. Ia merasa hidup begitu kejam padanya. Segala kebahagiaan yang pernah ia dapat dan pernah ia rasakanpun seakan lenyap. Bahkan serasa tak pernah ada. Karna kini yang ada hanyalah penderitaan. Amat sangat menderita.

Sempat terfikir untuk mengakhiri hidupnya. Hidup yang ia rasa hanyalah memberikan kepedihan. Sejenak ia berfikir lagi ... Bukankah sebelumnya ia juga pernah jatuh, lalu dapat bangkit kembali? Bukankah sebelumnya ia pernah merasakan kekecewaan, namun juga pernah mendapatkan keberuntungan? Esok masih misteri. Entah masalah lagi yang akan ia dapat, atau malah suatu anugrah. Ia hanya merasa jalan masih terlalu panjang untuknya berhenti sampai disini. Yah, jalan hidup memanglah masih terlalu panjang. Baguspun mengurungkan niatnya.
"Aku gak boleh lemah! Aku gak boleh cengeng!" gerutu Bagus. Lalu Bagus mengambil sebuah buku tulis dan sebuah pena. Ia memutuskan untuk menulis. Ia menulis tentang kisah cintanya dengan Vina, ia menulis tentang cerita perjalanan hidupnya, ia menulis apa saja yang ada dalam fikirannya dan semua yang ia rasakan. Ia mencoba berimajinasi dalam keterpurukan. Apakah dengan menulis dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya saat ini? Entahlah. Ia hanya menyibukkan dirinya untuk sekedar menghindari depresi.






5 TAHUN KEMUDIAN

Waktu terus berputar, haripun silih berganti. Begitu juga dengan hidup ini yang terdiri dari berbagai episode yang tidak akan monoton. Setiap perputaran membawa pada perubahan.
Jika lima tahun lalu Bagus adalah orang miskin, sekarang ia jadi orang kaya. Pesugihankah? Tentu bukan. Kekayaannya ia hasilkan dari tulisan-tulisan yang ia ciptakan. Siapa sangka, berawal dari hobi menulis yang ia mulai saat ia tengah mengalami kehancuran, kini telah membawanya pada puncak kesuksesan. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di majalah-majalah terkenal. Belum lagi buku-bukunya yang telah banyak di terbitkan dan laku keras di pasaran. Bagus jadi penulis tersohor sekarang.

Saat itu Sang Surya condong ke barat. Bagus tengah asik menikmati pemandangan di balik jendela kamarnya. Bukan kamar yang kecil dan pengab seperti dulu, melainkan kamar yang mewah dan cukup besar. Terdengar ketukan dari pintu kamarnya. "Masuk!" kata Bagus dengan suara agak keras. Pengetuk pintupun membuka pintu kamar Bagus. Ternyata Ratmi, salah seorang pembantu dirumah Bagus. "Barusan ada Pak Pos ngirimin surat, katanya buat bapak." ucap Ratmi seraya menyodorkan surat pada majikannya. "Oh iya, trimakasih mbok." Bagus menerima surat itu. Lalu Mbok Ratmipun pergi meninggalkan kamar Bagus.

Dengan rasa penasaran Bagus membuka surat itu. Siapakah pengirimnya? Ternyata Vina. Rasa penasarannyapun berganti kebahagiaan. Meski sedikit terkejut, karna selama lima tahun ini ia tak pernah mendapat kabar dari Vina sama sekali, tiba-tiba sekarang Vina mengiriminya surat. Perlahan Bagus membaca surat itu. Dalam surat itu Vina mengungkapkan perasaannya yang masih sama seperti dulu terhadap Bagus, menyatakan rasa kagum serta mengucapkan selamat atas apa yang diperoleh Bagus saat ini, dan menceritakan semua yang dialaminya selama lima tahun ini. Nampaknya sesuatu yang buruk telah terjadi pada Vina. Dua tahun yang lalu papa Vina mengalami kebangkrutan dalam usahanya akibat diperdayai oleh rekannya sendiri. Sehingga ia terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Sedangkan mama Vina kini menderita penyakit stroke semenjak ditinggalkan suaminya. Betapa malangnya nasib Vina saat ini. Bagus yang masih memiliki rasa cinta pada Vina tak kuasa menahan air matanya saat membaca surat tersebut. Dan tanpa menunggu waktu lama, Baguspun pergi untuk menemui Vina. Pergi menuju sebuah alamat yang telah di tuliskan Vina dalam surat yang barusan dibacanya.





Saat Pertemuan 

Bagus begitu terkejut menyaksikan pemandangan di hadapannya. Lima tahun yang telah menciptakan banyak perubahan. Vina yang lima tahun lalu begitu bercahaya kini nampak redup. Wajah cantiknya nampak terbalut oleh debu jalanan. Rambutnya yang dulu berkilau kini nampak begitu kusam. Tubuhnya dekil. Bibirnya kering. Vina yang dulu adalah seorang putri raja dalam sebuah istana yang megah, kini bagaikan seorang gadis korban peperangan. Yah, Vina memang hanyalah seorang korban dari peperangan.
"Gus, lihatlah keadaanku saat ini! Masihkah ada rasa cinta di hati kamu buat aku?" Vina bertanya dengan suara agak parau. "Vin, tahukah engkau? dengan keadaanku saat ini, aku bisa mendapatkan seribu gadis dengan mudah. Namun mengertikah engkau, kenapa selama ini aku masih sendiri?" Bagus menggenggam erat tangan Vina "Merasakah engkau? selama ini aku berusaha mencari sebuah jalan yang telah ku janjikan padamu. Dan kini aku tlah menemukan jalan itu. Jalan yang ingin ku tapaki hanya dengan kamu. Hanya dengan kamu!"
Keduanya tak kuasa menahan haru. Merekapun berpelukan, saling melepaskan rasa kerinduan yang telah lama menjadi dahaga.
Sang Surya nampak malu melihat kemesraan itu, hingga bersembunyi di balik punggung angkasa.
Yah ... Senja yang indah. Tempat berpulangnya sekian masa.



******* 

Mungkin Bagus sempat menjadi obyek dari situasi. Namun karna kelapangan hatinya, keteguhannya berpegang pada suatu keyakinan, serta usahanya untuk tidak bersikap sentimentil, maka iapun berhasil menjadi subyek dari situasi tersebut. Ialah sang jawara dalam suatu tantangan.

Sedangkan orang tua Vina, nampaknya telah menjadi obyek dari situasi. Karna hangat singgasana telah membuat mereka terlena. Kilauan permata telah membuat mereka buta. Mereka merasa berada di atas dan merasa dapat mengatur segalanya. Sementara tidak mereka fikirkan lagi, bahwa roda kehidupan terus berputar. Akhirnya merekapun harus jatuh dari ketinggian. Sungguh menyakitkan.
* Cerita diatas hanyalah sebuah karangan fiksi semata, yang terlahir dari imajinasi saya.Mungkin olah kata atau bahasanya kurang bagus? Maklum, penulis masih dalam tahap belajar.
Maka itu coment, kritik, maupun masukannya begitu berarti buat saya ... Terimakasih !

18 Comment:

  1. mungkin tokoh2 ceritanya fiksi.. tapi roda kehidupan seperti cerita ini pasti ada dalam hidup ini. Kitalah pelakon tantangan hidup itu.. akankah kita menjadi jawara atau pecundang dalam hidup ini?? semuanya tergantung dari usaha kita masing-masing dalam melakoni hidup ini...

    BalasHapus
  2. Keren, sbuah krya akn trcipta
    saat sbuah crta hdp trjdi.
    krena sbuah tulisn adlah ungkapn dri sbuah khdupan.
    sllu keren n mnarik karya Anda mas to dbaca.
    ya, sllu smangt!

    BalasHapus
  3. jalani hidup dg senang dan apa adanya namun jangan lupa berusaha dan berdoa, rasa hati akan terasa indahnya hidup didunia....

    BalasHapus
  4. wuih pinter juga nih Mas Sandy,,fiksinya sangat bagus berceria tentang sebuah kehidupan serta untuk berusaha dan berdo'a

    BalasHapus
  5. aku kirain ga' ada yg mo bca,,, trnyata ada jg ...hehehe

    @Mas Sam : comentny mantab mas! dunia ini emg panggung sndiwara,, baik brukny prtnjukan adl trgntung dri kita pmeranny ... mkasih mas brow udh hdir !

    @Mba' K3 : hohoho... pujianny trlalu brlebihn mbk,, aku jdi bsar kpl nih ... but, mkasih ya udh hdir !

    @Mba' Anisayu : siip! berikhtiar dg trus brdoa ... trimakasih masukanny !

    @Kang Sofyan : waduhh... bru blajar koq dibilang pinter? jd malez blajar nih ...hehehe
    mkasih kang udh hdir !

    BalasHapus
  6. bagus mas.. ini karya yang unik.. aku suka..

    keep posting ya .. bagus !!!!!

    BalasHapus
  7. @Mba' Fanny : duhh... jd malu nih klo si junior dipuji na seniorny,,, postingan ini aku pelajari dri potingan pean lho mba' ...
    trimakasih ya telah brkenan hdir & mmbca !

    BalasHapus
  8. wew, ceritanya mengena banget,
    Masih adakah cowok dlm cerita itu di jaman sekarang???? hehe

    eh usul, umpama tulisannya di gedein gimana??? soale terlalu kecil menurutku hehe
    Link nya sudah tak pasang di tempatku. monggo di cek

    BalasHapus
  9. @Mba' Tarry : ada aja sih mba', cman aga' sdikit lngkah ...hehehe
    trimakasih ya mba' bwt knjunganny mlam ini..,
    trimakasih jg bwt pmasangan linkny !
    usul telah diterima ...

    BalasHapus
  10. hehehe.. tu pantas to mas.
    sya hdr kmbli to mnagih
    hyo mna lgi tulisn dri ide2 Anda..
    hohoho
    dtunggu!

    BalasHapus
  11. @Mba' K3 : hohoho... muka aku jd merah nih (kyak abiz di tonjok)
    trimakasih ya mba' u/ kdtanganny yg brulang-ulang !
    smentara ini kyakny hrus vacum smentara di blog...
    maklum, mnjelang lebaran, hrus kjar setoran ...hehehe

    BalasHapus
  12. eh, san. dirimu blg komenin tulisan junior. padahal sya sama skli bukan senior. apalgi soal cerpen, maaf sya bukan penikmat cerpen, tepatnya mungkin dak ngerti cerpen. makanya bingung piye caranya sya kasi masukan. hehhehehe...

    em, tp klo boleh komen sedikit. entah krena sy yg bego apa sensitifitas pada cerpen sy yg mmg masih jongkok, tp spertinya ada sesuatu yg perlu ditata lebih apik. koherensinya mungkin. :D
    hm, sy justru brharap sandy tdk ambil pusing dgn komen sya. akan lebih baik untuk jdi penulis yang
    "Memuaskan pikiran dan menjadikan setiap centi kata dalam tulisan menjadi asset berharga alam bawah sadar"
    klik sja linknya klo mo tau maksudq apa. hehehhe.. keep on writing, kawan.. :D

    BalasHapus
  13. @Mba' Acci : waduhh... byutny penulis nongol,,
    1 2 3 KABUUUUUURRR.......wkwkwkwkwk
    mkasih mba'! coment mean sllu jd "suggestions positive!"

    BalasHapus
  14. what??? buyut?? klo saya buyut, pasti skg sya dah punya buku sendiri. lah, nyatanya? kagak adeh, bung. wkwkwkkwkwkkk..

    klo bnyak bacot, kayaknya sya jago deh. wkkwkwkwkwkkkkk

    BalasHapus
  15. keren2 tulisannya keren blognya juga keren.
    alurnya enak untuk diikuti.
    selamat berkaya kawan.

    BalasHapus
  16. @Mba' Acci : nyantae aj mba', kita ga' prlu bsar u/ mmulai ... tp kita hrus mmulai u/ mjd bsar ...hehehe

    @Mas Andes : trimakasih mas!
    selamat dtang di dunia independent writer,,
    bebas tp sopan ...hehehe

    BalasHapus
  17. mas sandy pandai merangkai kata - katanya...bakat yang sangat bagus...salut...

    salam kenal...nice blog :)

    BalasHapus
  18. satu jempol gak cukup, dua jempol untuk postingan ini mas...

    BalasHapus

Please comment, kritik, or sarannya! Trims ^_@